7 Oktober 2013

sejenak saja pergi dari ingatanku..

sudah cukup lama aku berusaha menjauhimu.
tidak bermuluk untuk dapat benar - benar melupakanmu.
setidaknya mengusirmu sejenak dari ingatanku.
ya,hanya sejenak..saja.
untuk kemudian menggantinya dengan orang lain..
namun kenapa kau harus datang lagi malam ini?
membuatku luluh lantah tak berdaya,
dan merasa usahaku untuk mengusirmu seakan sia - sia.
kau tahu saat ini saat ini aku sedang dekat dengan seseorang.
sekalipun kau tak pernah tahu kehadirannya 
sedang kuusahakan untuk menggantikanmu.
kali ini ingin rasanya aku benar - benar membuangmu jauh dari ingatanku.
aku lelah..terikat dengan sebuah tali yang bahkan tak dapat terlihat.
namun begitu terasa..menyesakkan dan menyakitkan.
aku lelah menyakiti semua lelaki yang memasuki hidupku,
hanya karena aku tak pernah bisa berhenti memikirkanmu.
selalu membandingkan mereka dengan dirimu.
jelas tak sama..karena kedudukan mereka dihatikupun jelas jauh berbeda.
bukan tak pernah..
selama aku mengenalmu aku pernah menjalani hubungan 
dengan beberapa laki - laki.
namun semua selalu berlandaskan kemunafikkanku yang seakan menyayangi mereka.
bukan...itu bukan kebohongan,tapi itu usahaku..
ya, aku berusaha untuk berhenti..
berhenti mengharapkanmu dan terus menyakiti orang lain.
tapi semua selalu sia - sia.
kau selalu membuat seseorang yang seharusnya lebih 
penting darimu jatuh begitu jauh dibawahmu.

thanks for all the hurtful things :')

hey..baru saja kita berbincang melalui telepon.
malam ini memang bukan yang pertama,
tapi kesekian.
namun kau tau?
yang aku lakukan masihlah hal bodoh yang sama.
ya..bersembunyi dibalik kemunafikkanku,
yang terus tertawa dan bersikap tenang dibalik teleponku.
mencoba untuk tenang mendengar dan membalas kata - katamu.
kau tak pernah tau, betapa aku ingin berteriak 'aaaaaaaaaaaa....'
saat aku menekan tombol hijau dihandphoneku dan mengucap 'halo' dengan datar.
dan bahkan kau takkan pernah tau yang kurasa malam ini.
sungguh rasanya aku benar-benar tak ingin mendengarnya, 
bahkan rasanya lebih baik percakapan malam ini tak pernah terjadi.
malam ini baru saja kau bercerita tentang seseorang yang kau bilang ia baik dan lucu.
Tuhan...terimakasih Engkau hanya mebuat ia menceritakan semua ini melalui telepon.
Entah aku harus bagaimana jika harus mendengarkan ia bercerita secara langsung.
aku tak tahu harus bagaimana menyembunyikan senyuman miris ini,atau mengatur suara lirih ini.
Tuhan ku mohonn hentikan aku menjadi seorang bodoh seperti ini. 
aku tahu aku akan lebih patah dari malam ini jika aku terus begini.
mengharapkan dirimu yang hadir dihidupku hanya sebagai sebuah pelangi dimalam hari.
ya..bak keindahan yang takkan pernah datang.
aku tahu..kau begitu mengharapkan dia,karena barusaja kau katakan.
dan begitu bersyukurnya aku karena kau tak dapat melihat ekspresiku.
ya..kau hanya dapat mendengar tawaku yang seakan mendukungmu.
yang sesungguhnya adalah sebuah tangisan lirih.
dan kau terus bercerita tentang semua hal dari dirinya yang kau sukai.
bahkan aku dapat mendengar betapa bahagianya dirimu saat mendapat ucapan 'selamat pagi' dari dirinya.
ya..aku mendengar itu,sungguh aku mendengarnya.
dan aku....lagi dan lagi hanya tertawa seakan ikut berbahagia.
bahkan aku menyemangatimu ketika kau nampak ragu.
padahal aku sendri tak pernah mengerti bagaimana caranya menyemangati diriku sendiri malam ini.
aku tau...sejak malam jauh sebelum malam ini aku benar - benar tau saat seperti ini akan datang.
saat dimana aku akan benar - benar patah, ketika kau akan pergi setelah menemukan seseorang lain.
aku tau itu..tapi aku begitu bodoh karena terus bertahan di ketidakjelasan ini,
bertahan dalam sebuah hubungan yang aku tau, takkan pernah berstatus.
tapi dengan bodohnya aku tak pernah pergi.
lalu dialog kita malam ini berakhir dimalam yang cukup larut dan kau menyuruhku untuk lekas tidur.
aku hanya mengiyakan perintahmu.
padahal,kau tau? yang terjadi aku tak dapat memejamkan mataku sediktpun.
terimakasih untuk dialog singkat yang begitu menyayat malam ini..terimakasih :')

Entah..

dan saat semua hal ini menyenangkan,
saat itulah seharusnya aku tersadar dan berhenti.
berhenti melakukan sebuah hal yang aku sadari 
dengan sangat adalah sebuah kesalahan.
sungguh aku sadar ini adalah kesalahan 
yang seharusnya tak aku lakukan.
akupun ingin segera terlepas dari semua rasa memuakkan ini.
rasa kenyamanan dari yang bukan milikku.
rasa memuakkan dimana aku harus mengakui 
kenyamanan yang kau berikan, tak dapat digantikan oleh siapapun.
sekalipun oleh seseorang yang benar - benar milikku.
bodoh...
iya memang, diriku memang bodoh..
masih mendambakan kertas buram abu - abu, 
padahal aku sudah berdiri tegak diatas kertas putih 
yang siap diukir dengan tinta berwarna - warni dengan dirinya.
yang benar - benar nampak jelas.
bukan seperti dirimu yang hanya nampak sebagai 
sebuah bayang yang akan menghilang,
lalu menampak lagi untuk menghilang lagi kemudian.
tak pernah ada kejelasan yang nampak, ya...takkan ada.
aku tak seharusnya terus melarutkan kebohongan ini.
disini...ditengah aku..dan dirinya.
lalu kapan aku akan berhenti?
saat aku sudah benar - benar lelah.
ya..lelah terus berlari dari dirimu dan membohongi hatiku sendiri, 
walau entah mana yang harus aku hentikan.
menghentikan kebohongan ini.
atau benar - benar mengusirmu sejauh mungkin dari fikiranku.
entah..

1 Oktober 2013

Gadis Kecil ditengah Kota Besar

aku melihatnya dengan jelas meski
hanya sayup - sayup ku dengar
gelak tawa gadis kecil yang bersandar di dada laki - laki remaja
yang kurasa itu adalah kakaknya.
dan perempuan setengah baya disampingnya yang sedang
memandunya bernyanyi itu kurasa adalah ibunya.
penampilan mereka tak terlihat mewah tapi juga tidak lusuh
yang kulihat dengan jelas mereka terlihat bahagia,
sedangkan ketika ku alihkan pandanganku kesudut lain
aku melihat dengan jelas, yang kali ini aku tak dapat dengar apapun.
karena memang tak sedikitpun suara keluar dari
bibir mungil gadis kecil itu.
hanya..mata sayunya yang memandang kearah keluarga kecil itu
membuat aku mengerti gadis itu sedang berteriak.
berteriak sekencang mungkin didalam hatinya,
betapa ia iri melihat mereka.
iri mengapa ia tak dapat seperti gadis sebaya didepannya itu.
Tuhan...dimana keadilan yang kau janjikan kepada umatMU?
betapa ibanya aku melihat sesosok gadis kecil bertelanjang kaki
dengan botol kecil berisi beras ditangannya yang ia gunakan untuk
mengiringi suara lantangnya itu mengalunkan sebuah lagu,
sedang memandang iri gadis sebayanya,berharap mendapatkan
apa yang tak pernah ia dapatkan, namun orang lain dapatkan.
Tuhan..kemana orang tuanya? dimana saudara - saudaranya?
mengapa Engkau biarkan ia sendiri?
terdiam...memendam,ya..hanya memendam.
berkatapun pada siapa?
siapa yang akan peduli dengan keirian hati gadis kecil di kota keras ini?
tak ada..