26 November 2013

Yang Tersimpan Dibalik Hujan

hujan kembali menahanku beranjak.
membangkitkan rasa dan ingatan yang sudah kupendam dalam.
dan tak pernah ku harap menimbul kembali.
rindu.
seketika ingatanku kembali diwaktu itu.
saat aku menunggu deraian air hujan
yang sedang mengguyur bumi saat itu berhenti,
disampingmu.
tanpa suara dari bibirku maupun bibirmu.
entah siapa yang memulai seingatku ketika itu kita terlibat percakapan singkat.
ya..begitu singkat, hingga tak lama sunyi menjalar kembali.
akupun juga masih mengingat,
ekspresimu yang menatapku sambil mengangkat alismu
mengisyaratkan pertanyaan "bagaimana?" tanpa berucap.
setelah berulang kali kau melongok kelangit yang masih berselimut mendung
yang tak kunjung membiarkan kami beranjak dari sini.
dan berulang kali ku lirik jarum jam yang menggelang di tanganku.
langit semakin menguning karena senja akan segera datang.
namun mendung tak kunjung menyingkir.
aku hanya membalas tatapanmu dengan menarik datar bibirku,
lalu membuang pandanganku kearah hujan, dan kembali menatapmu
sambil berkata 'terserah' kemudian tersenyum.
sesungguhnya hujan bukan masalah bagiku.
berlari maupun berjalan dibawah hujan biasa ku lakukan.
namun tatapan cemasmu saat itu, membuatku memutuskan iya ketika kau
mengajakku berteduh.
dan aku mengingat kau akhirnya memutuskan kita untuk segera beranjak,
ketika senja berlalu sudah dan berganti malam,
namun tetesan air langit itu, masih menahan kita.
kita berdebat cukup panjang ketika itu.
kau mengajakku melawan hujan dengan syarat aku mengenakan jaketmu.
padahal ketika itu dibadanku melekat sebuah jaket hitam.
jelas tak segera kukatakan iya.
dari semua penawaranmu, akhirnya kita sampai di kesepakatan.
kita akan melawan hujan dengan aku meggunakan jaket coklatmu,
dan kamu menggunakan jas hujan yang katamu ada dibawah jok motormu.
namun ternyata kau ingkar dan menipuku.
setelah setelah kau menurunkan motormu dari tempat kita berteduh kebawah tetesan hujan.
hanya sebuah helm hitam yang melekat dikepalamu,
dan kemeja putih berlambang osis berwana coklat didada kiri yang melekat ditubuhmu.
lalu mengangguk dan berkata 'ayo' kepadaku.
aku mengernyitkan dahi melihat kelakuanmu dan segera duduk dibelakangmu.
kufikir berdebat lagi pun percuma, basah kuyup sudah tubuhmu ketika itu.
segera kau memacu sepeda motormu meninggalkan tempat itu.
dan tapa sadar aku tersenyum, dan selalu bahagia ketika hujan turun.
hah..lama sudah cerita itu berlalu,
dan hujan seringkali membangkitkan ingatan itu
seperti saat ini..
ya..saat aku berdiri terdiam berlindung dibawah atap dari hujan yang menderai.
menunggu mereka behenti bermain - main turun dari langit ke bumi.
dan cerita kita masih tersimpan dibalik hujan,
sekalipun kini aku hanya berdiri sendiri, bukan disampingmu lagi.... :')

Tiada ulasan:

Catat Ulasan